Minggu, 29 April 2012

Analisis Puisi


REFLEKSI KONTEMPLATIF CHAIRIL ANWAR DALAM PUISI ISA

Pengantar
Karya sastra merupakan objek pengetahuan yang bisa dipahami secara utuh dalam dirinya sendiri sekaligus karya sastra dianggap sebagai perwujudan sebuah struktur yang abstrak (Todorov, 1985: 1). Mengacu pemahaman tersebut, puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra dapat dianalisis secara otonom berdasarkan dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan pendekatan objektif yang disampaikan Abram (1979) baha karya sastra sebagai karya yang otonom maknanya berdiri sendiri, terlepas dari sejarah dan sosial budayanya.
Analisis puisi yang hanya terpaku pada unsur-unsurnya dianggap belum lengkap. Struktur yang abstrak perlu diungkapkan untuk mendapatkan makna yang lebih utuh. Makna menyeluruh sebuah puisi tidak cukup hanya digali melalui unsur-unsur puisi tersebut, tetapi perlu dideskripsikan sampai tataran makna yang lebih dalam.
Hal-hal di atas menjadi dasar analisis yang akan diuraikan dalam tulisan ringkas ini. puisi sebagai struktur yang kompleks perlu dianalisis berdasarkan unsur-unsur sebagai upaya untuk mengetahui keterkaitan bagian satu dengan bagian yang lainnya. Setelah kesatuan unsur-unsur tersebut diungkapkan, analisis dilanjutkan untukmenemukan makna yang terkandung di dalam jalinan unsur-unsur tersebut.
Langkah-langkah analisis mengacu tahapan-tahapan yang disampaikan oleh Pradopo (2007: 14-21), yaki analisis strata norma menurut Roman Ingarden. Analisis strata norma meliputi lapis suara (sound stratum),  lapis arti units of meaning), lapis ketiga, lapis keempat, dan lapis kelima. Analisi strata norma dianggap belum menyentuh hakikat puisi sehingga untuk menemukan maknanya dilakukan analisis semiotik. Analisis strata norma dan analisis semiotik diharapkan dapat mengungkapkan makna selengkapnya sehingga puisi sebagai karya seni dapat diketahui nilai estetiknya. Objek kajian dalam tulisan ini adalah puisi ISA karya Chairil Anwar.

Analisis Strata Norma Puisis ISA

ISA

Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

Kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka
aku bersuka

Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah

(Chairil Anwar dalam Pradopo, 2007: 34-35)

    a.    Lapis Suara (sound stratum)
Ketika seseorang membaca puisi, yang terdengar adalah rangkaian bunyi dengan jeda pendek, agak panjang, dan jeda panjang. Suara-suara yang terdengar bukan sekadar bunyi melainkan suara-suara yang mengikuti konvensi bahasa tertentu yang memiliki makna. Bunyi-bunyi yang dipergunakan penulis dalam puisi perlu ditelaah. Setiap bunyi kita yakini mengungkapkan makna tertentu. Paling tidak lewat buntiysng diperdengarkan dalam puisi, pembaca menjumpai suasana riang gembira, ringan ceria, pedih merintih, berat menekan, dan lain sebagainya.
Puisi ISA karya Chairil Anwar di atas juga mengandung satuan-satuan suara yang terdiri atas suara suku kata, kata, frase, dan kalimat. Lapis bunyi puisi tersebut mengikuti konvensi bunyi bahasa, dalam hal ini adalah konvensi bunyi bahasa Indonesia sebagai media ungkap puisi.
Efek puitis yang muncul pada puisi ini antara lain adanya asonansi bunyi a, mendampar tanya: aku salah; berkaca dalam darah; terbayang terang di mata masa; dan bertukar rupa ini segera. Asonansi bunyi u misalnya kita lihat pada: kulihat tubuh mengucur darah. Aliterasi t, d, dan m dapat kita lihat pada: terbayang terang; dalam darah; dan mata masa. Selain itu permainan bunyi r pada mengucur darah dan bertukar rupa ini segera menciptakan resonansi yang menggetarkan jika puisi dibacakan.
Bunyi dominan h yang dipakai mengakhiri hampir seluruh akhir baris memunculkan nuansa pedih yang mendalam. Bunyi ini melambangkan situasi yang demikian berat seberat penderitaan yang dialami Isa.

   b.    Lapis Arti (units of meaning)
Satuan arti puisi terbentuk dari kesatuan terkecil berupa fonem. Fonem terdiri atas suku kata dan kata yang kemudian tergabung menjadi frase, kalimat, alinea, bait, bab, dan kesatuan cerita. Bagian pertama puisi itu tubuh mengucur darah mengucur darah berarti tubuh itu sungguh-sungguh mengucurkan darah. Rubuh patah,  tubuh mengucur darah itu akhirnya rubuh mati dan untuk membuktikan benar-benar sudah mati, salah satu bagian perlu dipatahkan (menurut catatan Injil, tidak ada yang perlu dipatahkan karena sudah mati). Mendampar tanya: aku salah?, si aku dihinggapi pertanyaan reflektif karena ia membiarkan tragedi itu berlangsung dihadapannya.
Baris-baris selanjutnya, aku tetap memandang tubuh mengucur darah itu. Sebagai bagian refleksi kehidupannya, aku pun berkaca pada peristiwa tragis tersebut. Ternyata di balik curahan darah itu ada bayangan terang hidup yang akan segera menggantikan dan itu dapat dialami oleh setiap orang yang mau introspeksi diri. Si aku menutup kesedihan yang menguasai dirinya seperti luka menganga yang mengatup. Bahkan si aku mencoba mengganti kesedihan itu dengan rasa sukacita. Fakta tubuh mengucur darah tetap menjadi kenyataan yang tidak terhapus.

    c.    Lapis Ketiga
Lapis ketiga mengacu pada objek-objek yang dikemukakan: pelaku yang dapat ditemukan dalam puisi,  latar waktu, suasana, maupun tempat, dan dunia pengarang. Objek-objek yang dikemukakan meliputi tubuh, darah, terang, mata, rupa, dan luka. Latar yang ditampilkan bukan latar waktu dan latar tempat tetapi latar suasana, yang penuh dengan kepedihan yang mencekat mencengkam. Pelaku atau tokoh adalah si aku.
Dunia pengarang adalah dunia yang diciptakan pengarang. Pada bagian ini ada gabungan dan jalinan objek-objek yang dikemukakan, latar pelaku, dan struktur berupa alur cerita.
Pengarang mengisahkan ceritanya sebagai berikut. Tubuh itu mengucurkan darah. Darah terus mengucur dan tubuh itu akhirnya rubuh, mati. Untuk membuktikan bahwa tubuh itu sudah mati, ada bagian yang harus dipatahkan. Saat pengarang melihat kejadian itu (paling tidak dalam bayang imajinya), sebuah pertanyaan menyeruak di alam bawah sadarnya. Siapakah sebenarnya yang bersalah? Akukah yang bersalah?
Darah yang mengucur dipakai sebagai cermin untuk berkaca. Cermin darah itu memantulkan bayangan terang yang akan muncul pada waktu tertentu. Bayangan itu mampu mengubah dengan segera kesedihan menjadi harapan sukacita. Tetapi tubuh itu memang harus mengucurkan darah.        

   d.    Lapis Keempat
Lapis dunia yang implisit pada puisi ini adalah: tubuh yang mengucurkan darah itu menyebabkan kepedihan yang luar biasa. Bagian selanjutnya menyiratkan tragedi kemanusiaan yang mencekam (rubuh, patah) hingga hati tercekat. Situasi itu memunculkan pertanyaan kontemplatif ‘aku salah?’.
Pada bagian selanjutnya muncul keberanian si aku untuk mencoba memahami situasi dengan becermin pada kaca darah. Apa yang yang dilihat membawanya pada kesadaran makna di balik tragedi yang terjadi. Ada sukacita yang ditawarkan melalui peristiwa mencekam itu.
Bagian terakhir puisi menegaskan bahwa peristiwa itu memang harus terjadi. Tragedi kemanusiaan yang diyakini sebagai jalan menunju yang Illahi.

    e.    Lapis Kelima
Lapis metafisis pada puisi ini adalah di balik peristiwa tragis ada harapan yang terbentang berupa kehidupan terang benderang. Kehidupan terang itu menjanjikan suasana yang penuh kegembiraan. Suasana yang selalu diwarnai kesukacitaan.      

Analisis Makna Puisis ISA
Puisi ISA karya Chairil Anwar dapat dianalisis dari beberapa sudut pemahaman. Dari aspek bunyi yang dipergunakan, Chairil memberi gambaran suasana berat dan sedih. Bunyi a dan u yang dominan mampu memperdalam ucapan, sehingga timbul suasana khusus. Bunyi-bunyi itu terasa berat dan rendah yang menunjukkan perasaan sedih, gundah, muram, dan murung. Jika dibaca, puisi ini akan tepat diungkapkan dengan nada bas atau bariton serta vokal bertimbre berat sehingga suasana puisi muncul dalam getaran-getaran berat pembaca.
Pemilihan akhir baris dengan bunyi h memberi penegasan betapa dramatisnya peristiwa yang terungkap dalam puisi. Jika hal ini dapat dikatakan sebagai pola persajakan puisi maka Chairil berhasil dengan baik menciptakan daya evokasi dalam puisinya. Bunyi h yang dipergunakan memiliki daya yang sangat kuat dalam memunculkan pengertian yang disampaikan.
Subagyo Sastrowardoyo (1980: 51) memahami mengapa Chairil Anwar mampu mengekspresikan jelmaan angan-angannya sedemikian baik tetapi tragis. Gejala kejiwaan berupa dorongan kepada keganasan serta kecenderungan hendak menyaksikan kerusakan tubuh mendorong dia memilih kata darah, luka, rubuh, dan patah.  Situasi yang membingungkan serta jiwa yang tersiksa mendapatkan ruang ekspresi melalui luka parah dan kebinasaan tubuh itu.
Mengapa ISA? Kegelisahan dan penderitaan berupa pergulatan batin yang dilakukan dalam alam abstrak meninggalkan bekas pada wajah kejiwaannya. Ia mendapatkan kristalisasi dari semua itu dalam situasi nihilitis dan destruktif. Sementara itu,  ISA adalah abstraksi paling tepat sebagai simbol ketidakeksisan manusia dan kehancuran yang juga dialaminya. Chairil Anwar menemukan analog paling pas dengan sesuatu yang menghunjam pengalaman kejiwaannya pada ISA. ISA merupakan refleksi kontemplatif kehidupannya. Terlebih lagi, Chairil Anwar tidak mungkin memungkiri diri sebagai homo religious.
Sosok ISA  tidak semata-mata menjadi konkretisasi penderitaan mahadahsyat tetapi tidak lepas dari fakta lain yang dialami oleh Chairil. Chairil adalah penyair pro-Barat. Di tengah kesesakan himpitan politik Jepang, Chairil menggali kembali khasanah sastra Barat yang dibiarkannya memengaruhi dirinya dengan sikap dan pandangan ke-Eropa-annya. Hasilnya adalah Chairil yang memiliki jiwa khas Barat yang bersajak dalam bahasa Indonesia (Sastrowardoyo, 1980: 52).

Penutup
Mencoba memahami puisi ISA  karya Chairil Anwar, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, ISA merupakan simbol kekosongan eksistensi diri manusia. Ketika orang digerogoti oleh pertanyaan tentang jati diri, ISA adalah simbol paling tepat mengenai hal itu. Kedua, ISA (dalam istilah sekarang) merupakan ikon ketika manusia mencoba mencari referensi tentang kehancuran manusia dan kemanusiaan.


Daftar Pustaka

Abram, M.H. 1979. The Mirror and The Lamp: Romantic Theory and Critical Tradition. New York: Oxford University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007 (cetakan ke-7). Pengkajian Puisi Analisis Strata Norma & Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sastrowardoyo, Subagio. 1980. Sosok Pribadi dalam Sajak. Jakarta: Pustaka Jaya.

Todorov, Tzetan. 1985. Tata Sastra. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar