Rabu, 10 Februari 2016

aku lupa mengatakan kepadamu

aku lupa mengatakan kepadamu

aku lupa mengatakan kepadamu
bahwa kita akan bertemu 
di ruangan sempit ini
kelas tempat kita belajar mengeja 
alif ba ta 
yang tak pernah tamat
karena kecerdasan kita hanya 
diukur lewat penguasaan 
logaritma dan hitungan aljabar
aku lupa mengatakan kepadamu
jika kita harus bersua 
dipetak sumpek ini 
tempat kita berolah cita dan rasa
melagukan tembang mijil hingga megatruh 
yang tak pernah benar-benar kita kunyah 
karena cita-cita kita hanya dibatasi profesi
dokter dan insinyur
aku lupa mengatakan kepadamu
kalau kita berjanji di hari sabtu
padahal aku tahu jadwalmu 
takkan pernah ada keringat di hari itu
sementara aku seorang guru
yang tidak mengenal hari minggu
maaf
aku lupa mengatakan kepadamu

27 Januari 2016

Belajar Membaca

Belajar Membaca
pagi ini kerja sengaja bersepeda
ada tiga hal yang menarik selama perjalanan
wanagiri ke kota sala
sebuah mobil angkutan barang
terlihat oleng kanan-kiri
ada tiga kemungkinan yang bisa dibaca
sopir mabuk ngantuk atau
baru belajar mengemudi
seorang pengendara motor
mematut diri dengan sepatu boot tinggi
ada tiga kemungkinan yang bisa dibaca
pemotor kedinginan salah kostum atau
tuntutan keamanan di jalan
seorang nenek renta
menyeberang jalan raya dengan motornya
ada tiga kemungkinan yang bisa dibaca
lansia sebatang kara sedang tergesa atau
menikmati pagi cerah
pagi ini sengaja bersepeda
dari wanagiri sampai ke sala
belajar dari tiga peristiwa
sopir yang belajar membaca marka
pemotor yang belajar membaca cuaca dan
nenek renta yang belajar membaca batas usia

Senin, 28 September 2015

Bertukar Peran

Bertukar Peran

ROMA 12: 4
“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama.“

Suatu ketika seorang suami berdoa kepada Tuhan : “Ya, Tuhan, betapa tidak adilnya hidup ini. Aku bekerja mencari nafkah buat keluargaku siang dan malam. Aku sering merasa lelah sementara isteri dan anak-anakku hanya duduk menunggu di rumah. Aku minta pada-Mu agar Kau ubah istriku menjadi diriku agar ia tahu betapa berat tanggung jawab yang harus kupikul, dan aku ingin Kau ubah diriku menjadi istriku, sehingga aku punya banyak waktu untuk beristirahat di rumah”
Dan Tuhan pun mengabulkan permintaan pria itu. Paginya, saat ia bangun. Ia melihat istrinya yang sudah berubah menjadi pria telah meninggalkan rumah untuk bekerja dan dia yang telah menjadi wanita memulai pekerjaannya dengan memandikan anak-anak, menyiapkan makanan dan mengantar anak-anaknya ke sekolah.
Sepulang dari mengantar anak sekolah, ia mencuci pakaian yang sudah menumpuk sambil terus memperhatikan jam untuk menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Ia juga  memasak untuk makan siang. Berikutnya, ia harus mengantar anak-anaknya les piano dan menari di sanggar.
Belum sempat beristirahat, ia menerima undangan arisan ibu-ibu di RT. Malam harinya ia harus menemani anaknya mengerjakan PR dan menyiapkan makan malam. Sementara itu, istrinya yang telah menjadi dirinya sudah tertidur pulas. Begitulah ia menjalani aktivitas rutinnya tiap hari.
Setelah dua minggu, ia datang lagi kepada Tuhan dan berdoa, “Tuhan, ternyata menjadi seorang isteri sangat repot dan melelahkan. Aku tidak sanggup untuk menjalaninya terus. Aku  mohon kepada-Mu, ubahlah aku kembali menjadi pria seperti semula”.
                                             
Tuhan menjawab, “ Baiklah, tapi kita harus menunggu sembilan bulan lagi”. “Apa? Mengapa harus sembilan bulan lagi? Dua minggu ini sudah menjadi hari yang sangat menyiksa dan berat bagiku”, kata pria itu protes.
“Masalahnya, saat ini kamu sedang hamil!”, jawab Tuhan kalem.

Saudara yang terkasih, Tuhan menjadikan setiap orang menurut jenis dan perannya masing-masing. Kepada setiap orang, Tuhan memperlengkapi dengan kemampuan untuk memikul tanggung jawab sesuai dengan tugasnya, sehingga masing-masing dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan maksud Allah.
Hal ini menjadi gambaran gereja yang walaupun satu tubuh namun memiliki banyak anggota dengan fungsi dan tugasnya yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Bacaan hari ini ROMA 12:4 “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama.“
Sebagai anggota Tim Pelayanan GKJ WU, kita memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Satu-satunya tugas kita adalah mengerjakan bagian masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Ketika semuanya itu terjadi, tim pelayanan akan bergerak dengan sendirinya. Selanjutnya tinggal membangun ketaatan anggota tim untuk mengikuti sistem kerja yang ada.
Mari  kita kerjakan bagian kita dengan tulus dan penuh syukur. Tuhan memberkati. Amin.

                                                                         (Dimodifikasi dari Bertukar Peran, https://                                                                                          dokterkrisna.wordpress. com/ category/kisah-                                                                                    inspiratif/) 

Perbedaan untuk Kesehatian

Perbedaan untuk Kesehatian

AMSAL 16: 4a
“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, ..”

Saudara yang terkasih,
Renungan pembukaan dalam kegiatan Kesehatian Personalia Tim Pelayanan GKJ WU ini akan saya awali dengan sebuah cerita tentang burung elang dan burung gagak. 
Adalah seekor burung elang. Dengan  kekuatan sayapnya, burung elang menyambar seekor anak domba. Dengan  kukunya yang kuat ia membawanya anak domba itu pergi jauh ke angkasa.
Seekor  burung gagak ternyata menyaksikan kejadian itu. Terbayang  di benaknya sebuah gagasan bahwa dia pun mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan burung elang tersebut. Dengan  membuka sayapnya lebar-lebar terbanglah gagak itu di udara dengan galaknya. Dia  meluncur ke bawah dan dengan cepat mencengkeram bagian punggung seekor domba. Ketika  dia mencoba untuk terbang kembali dia baru sadar kalau tidak bisa mengangkat domba tersebut. Lebih celaka lagi, dia tidak dapat terbang karena kukunya terjerat bulu domba.
Gagak itu mencoba dengan sekuat tenaga untuk lepas dari jeratan bulu domba. Walaupun  dia meronta-ronta mencoba untuk melepaskan dirinya, jeratan itu terlalu sulit untuk dilepaskan. Dia  merasa putus asa dan tetap tinggal di atas punggung domba tersebut.
Seorang gembala melihat burung gagak itu mengibas-ngibaskan sayapnya berusaha melepaskan diri. Penggembala  itu tahu apa yang telah terjadi. Penggembala  itu pun berlari dan segera menangkap burung itu. Penggembala mengikat dan mengurung burung gagak itu.
Menjelang  sore, penggembala itu memberikan burung gagak kepada anak-anaknya di rumah untuk bermain.
“Betapa lucunya burung ini!” Kata anak-anak sambil tertawa.  “Ini burung apa, Ayah?”
“Itu burung gagak, Anakku. Tetapi jika kamu bertanya kepadanya, dia akan menjawab dia adalah seekor burung elang.”

Saudara yang terkasih, Tuhan mengaruniakan kepada setiap orang talenta yang khusus bahkan unik untuk tujuan masing-masing. Tidak ada seorang pun yang sama. Ketidaksamaan sering  memunculkan rasa iri hati terhadap orang lain. Tidak bisa bernyanyi iri terhadap yang bisa. Tidak  memiliki kemampuan bermusik iri terhadap yang mempunyainya. Tidak dapat bicara panjang lebar iri terhadap yang memilikinya. Dan perasaan-perasaan iri lainnya.
Sikap iri hanya sebagian sikap negatif yang kadang muncul. Ada berbagai tindakan yang kadang berakibat lebih destruktif. Tindakan yang dapat mengganggu komunikasi atau bahkan relasi di sebuah komunitas.
Sebagai satu tim pelayanan di GKJ WU, kita masing-masing memiliki kemampuan sekaligus ketidakmampuan. Kemampuan dan ketidakmampaun dapat bersinergi untuk saling melengkapi. Yang mampu tidak boleh merasa paling mampu. Yang tidak mampu tidak boleh iri atau bahkan minder. Sebuah tim adalah kesatuan yang saling mengisi. Sebuah tim adalah bersatunya berbagai kemampaun untuk mencapai tujuan bersama, GKJ WU yang hidup sekaligus menghidupi. GKJ WU adalah komunitas kita. Tempat kita hidup, dan berolah pelayanan. Menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya.
Tuhan mengingatkan agar kita bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. Dua hari ini, kita mencoba mewujudkan ungkapan syukur itu untuk membangun kesehatian dalam pelayanan. Hanya dengan kesehatian, kita akan  dipakai oleh Allah untuk menggenapi tujuan yang mulia atas hidup kita. Amsal 16: 4a: “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, ..”. Amin.



Kamis, 12 Februari 2015

Hari Baru

Hari Baru

Hari ini ritme sudah menemukan sentuhannya. banyak penyesuaian yang membuat semua optimis. Tetapi harus tetap menjaga irama yang kadang menjadi pertanyaan. Konsistensi perlu dijaga. Apalagi jika keragu-raguan masih melintas. Hari baru memang kadang-kadang membuat kebutuhan akan konsentrasi bertambah.

Jumat, 23 Mei 2014

cerpen

Laki-laki yang Menyapu Halaman di Sore Hari

Matahari perlahan-lahan turun. Bayangan pepohonan mulai menelannya. Daun-daun bambu yang melambai-lambai menghalangi sorot jingganya, tetapi tak mampu menyembunyikan sisa hangatnya. Angin kering dan lembab berhembus.  Gelap pun datang bersama alunan adzan magrib. Semayup. Ritmis. Seorang laki-laki menyapu halaman rumah di sore itu.
Laki-laki  paruh baya, tetangga samping rumahku segera mengambil sapu ijuk bergagang kayu. Dan mulailah ia membersihkan halaman rumahnya itu. Daun pohon mangga, daun pohon kelengkeng, sisa-sisa pasaran anaknya, plastik bungkus permen, semua dikumpulkannya. Dengan pengki terbuat dari seng bekas wadah roti Khong Guan yang dibelinya di pasar, sampah-sampah itu dibuangnya ke sawah di depan rumahnya. Dicampakkannya begitu saja. Biasanya sampah-sampah itu dibakarnya di malam hari. “Untuk mengusir nyamuk.” Begitu pernah dikatakannya kepadaku suatu hari.
Mengenai daun pohon mangga. Ya. Ada dua batang pohon mangga di halaman rumahnya. Pohon mangga yang ditanamnya sebagai peneduh karena  jika siang hari matahari membakar serambi rumah dengan teriknya. Daun-daunnya yang rimbun menyerupai payung raksasa menaungi halaman rumahnya. Bukan halaman sebenarnya. Karena halaman itu adalah jalan di depan rumah. Rumah ukuran 21 tak pernah memiliki halaman. Untuk mencukupi kebutuhan ruangan, bangunan rumah dengan rakusnya melahap sisa lahan yang ada. Hingga tak bersisa sejengkal pun. Batas antara rumah dan jalan hanyalah pagar. Dan jadilah jalan di depan rumah sekaligus menjadi halamannya. Tetapi di seberang jalan depan rumahnya itu memang sangat luas. Rumahnya yang berada di deretan paling bawah dan paling pinggir memungkinkannya bertanam. Beberapa pohon buah membuat suasana nyaman dan teduh. Tanaman hias memanjakan mata penghuni rumah dan siapapun yang melintas atau singgah dengan warna-warni dan hijau segarnya.  
Mangga yang ditanamnya jenis mangga madu. Setiap tahun berbuah sangat lebat. Bahkan beberapa kali musim ada saja dahan yang terpaksa dipangkas. Mangga bergantungan seperti ada festival makan mangga sepanjang jalan. Banyaknya buah telah mengganggu perjalanan tetangga yang memiliki mobil. Mangga-mangga sekepalan tangan orang dewasa yang bergelantungan di atas jalan membahayakan kaca kendaraan yang lewat. Kalau dibiarkan akan mengganggu hubungan social bertetangga. Mungkin saja akan menjadi sumber perang dingin dengan orang seperumahan. Bahkan bisa sumber konflik terbuka seperti yang terjadi di gang atas. Meski belum saatnya panen terpaksa buah-buah itu direlakan. Dahan dengan buah yang lebat beberapa kali di pangkas. Semuanya untuk menjaga harmoni. Tetangga adalah saudara paling dekat. Tetapi sebaliknya, bisa menjadi musuh terdekat tanpa sekat. Tentu saja yang kemudia mendapat  keuntungan lebih adalah Mardi. Tetangga lain RT yang memelihara kambing dan masih memasak dengan kayu bakar. Dahan-dahan dan ranting-ranting pangkasan pohon itu dikumpulkannya untuk kayu bakar. Daun-daun dan buah manga yang masih muda itu pun dibawanya pulang untuk makanan kambing.
Buah mangga bagi laki-laki yang menyapu halaman dengan sapu ijuk bukan sekadar buah mangga. Buah mangga telah dijadikannya semacam alat diplomasi dengan para tetangga. Diplomasi?   Ya. Tak ada yang lebih efektif untuk menjalin kedamaian di perumahan itu. Setiap panen mangga semua tetangga akan mendapatkan bagian masing-masing. Satu tas kresek mangga. Tak terkecuali. Bahkan mereka yang tidak berada di rumah saat panen atau saat pembagian hasil panen. Mereka tetap mendapat bagian. Jika pemilik rumah pulang dari piknik atau dari manapun, mereka akan menjumpai sekresek mangga ranum di pagar rumah. Atau di handle pintu rumah. Tanpa pesan. Dan semua tetangga sudah hafal dengan kebiasaan laki-laki yang menyapu halaman di sore hari. Pagi harinya, atau siang harinya, atau sore harinya, atau bahkan pada malam harinya, atau kapan pun saat tetangga bertemu dengan laki-laki itu mereka akan menyampaikan ucapan terima kasih. “Terima kasih kiriman mangganya, Pak. Langsung ludes lho kemarin itu. Manis. Anak-anak menyukainya.” Begitu antara lain ungkapan tetangga yang mendapat kiriman mangga.
Laki-laki yang menyapu halaman di sore hari. Kegiatan laki-laki paruh baya itu seperti ritual saja layaknya. Setiap sore. Setiap adzan magrib. Setiap matahari perlahan turun. Saat daun-daunan bambu menghalangi sorotnya. Sapu ijuk yang dibelinya dua bulan lalu sudah makin jarang ijuknya. Bahkan tali rafia yang mengikatnya sudah berubah warna.
“Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya.” Nyanyian itu selalu mengiringi tangannya yang mengayunkan sapu ijuk. Suaranya bariton. Dengan timbre berat. Ada semacam getaran kuat karena nyanyian itu diungkapkannya sebagai doa. Atau bahkan seperti mantra yang mengiringi aktivitasnya. Kecintaannya pada tanah air seperti mendapatkan nadinya lewat syair itu. Ekspresi perasaan yang sangat pribadi.  
Laki-laki dengan sapu ijuk. Aku seharusnya meminta maaf. Sebagai tetangga samping rumah aku tak pernah tahu namanya. “ Sore, Pak.” Itu sapaan standar yang selalu keluar dari bibirku setiap kali, tanpa sengaja tentunya, berada di depan rumah. “Terima kasih, Pak.” Begitu yang aku ucapkan setiap bertemu dengannya setelah mendapat kiriman mangga ranum. Dan apa jawabannya? “Nggih.” Bahasa Jawa. Sopan. Dan jawaban itu seperti memaksa kami tidak melanjutkan percakapan. Singkat. Selalu dirasa cukup.
Kabarnya kebiasaannya menyapu halaman di sore hari sudah dilakukannya sejak pertama pindah ke perumahan ini. Kabarnya. Karena aku sendiri tidak tahu sejak awal. Aku baru beberapa tahun menjadi tetangganya. Kebiasaannya menyapu di sore hari berbeda dengan kebiasaan Saleh, juga tetanggaku, guru sebuah SMK Negeri di kotaku. Pak Guru Saleh punya kebiasaan menyapu halaman di pagi hari, setelah subuhan. Itu pun dilakukannya dengan sapu lidi. Sapu lidi bergagang bambu panjang. Sreg …sreg…sreg…Suaranya nyaring di pagi yang masih sepi dan dingin. Saleh memang punya waktu lebih panjang untuk menyapu halamannya, bukan halaman tetapi jalan yang sekaligus halaman, sebelum ke kantor. Kantor itu hanya beberapa kayuhan sepeda angin jaraknya. Memang banyak perbedaan antara Pak Saleh dengan laki-laki yang menyapu halaman di sore hari saat masjid mengumandangkan adzan magrib. 
Laki-laki yang menyapu halaman setiap sore berangkat kerja pada pukul 5 pagi. Kokok ayam masih bersahutan di sana-sini seperti sesahutan paduan suara. Masih pagi. Bahkan anaknya yang bungsu pun belum bangun tidur. Dia hanya mencium keningnya sebentar. Mencium isterinya. Dan mendapat ciuman tangan dari anaknya yang kedua. “Berangkat pagi lebih lancar. Udara masih segar. Dan tidak kemrungsung. Tidak tergesa-gesa.” Itu dikatakannya ketika ibu-ibu yang pulang subuhan menyapanya suatu pagi. Tempat kerjanya yang 30 km dari rumah mengharuskannya ke kantor mruput. Dengan menumpang bus antarkota, ia menjalani aktivitas rutinnya setiap hari. Itulah mengapa laki-laki yang seluruh rambutnya mulai memutih selalu menyapu halaman di sore hari.
Belakangan ini ia terlihat makin rajin menyapu halaman di sore hari. Saat matahari perlahan turun. Ketika dedaunan bambu menghalangi sorotnya tetapi tak kuasa menahan sisa hangatnya. Saat adzan magrib sayup-sayup terdengar dari  loudspeaker masjid An-Nur di perumahanku.
Menurut beberapa tetangga, laki-laki itu makin rajin menyapu halaman di sore hari karena dia bisa makin sering menyenandungkan lagu “Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya.”    Syair lagu yang adalah doa, bahkan mantra itu  menjadi semacam ramuan ajaib yang bisa sedikit mengobati kerinduannya pada Si Sulung. Oh ya. Laki-laki yang menyapu halaman di sore hari itu punya tiga anak gadis. Si Sulung hampir setahun yang lalu berangkat ke Tiongkok. Beasiswa belajar dari pemerintah Tiongkok membuat mimpinya kuliah bahasa Mandarin terwujud.
“Ah. Berkat Tuhan.” Begitu kata-kata yang meluncur dari bibir laki-laki itu setiap kali ada tetangga yang mengucapkan selamat karena anaknya berhasil kuliah di luar negeri. “Doanya terkabul.” Kalimat ini hanyalah variasi jawaban kalau ada dua atau lebih orang memberinya simpati. Atau, “Keinginan anaknya sudah mantheng, dan Tuhan menghargai kesungguhannya.”
 Hari itu Minggu, 9 Maret. Sudah dua hari ini laki-laki setengah baya dengan rambut yang hampir putih semua tidak menyapu halaman, yang sebenarnya adalaha jalan, seperti biasanya. Saat dedaunan bambu menghalangi sinar matahari tetapi tak mampu menghalangi hangatnya. Saat adzan magrib sayup-sayup terdengar dari loudspeaker masjid An-Nur. Tidak ada lambaian sapu ijuk bergagang kayu. Tak ada senandung “Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya”.  Istriku mendengar kabar dari ibu-ibu RT saat arisan bulanan tanggal 7. Laki-laki itu tak kuasa lagi menahan kerinduannya pada Si Sulung. Tekadnya sudah bulat untuk mengunjungi anaknya itu. Istri dan dua anaknya mendukung. Izin kepada atasannya sudah diperoleh.    Perlengkapan perjalanan sudah digenggamnya. Tanggal 8 Maret dia berangkat ke Tiongkok.

Tidak ada yang tahu mengapa laki-laki yang menyapu halaman di sore hari memilih penerbangan dari Kuala Lumpur Malaysia ke Beijing. Tidak ada yang tahu mengapa laki-laki berambut hampir putih semua memilih pesawat MH370 Malaysia Airlines. Hari ini. Ya. Hari ini, Kamis 8 Mei. Dua bulan sejak keberangkatan laki-laki tetangga  sebelah rumahku. Matahari masih saja turun perlahan-lahan. Bayangan pepohonan tetap menelannya. Daun-daun bambu yang melambai menghalangi sorot jingganya, tak kuasa menyembunyikan sisa hangatnya. Angin sore ini kering dan lembab berhembus. Gelap pun datang ditemani alunan adzan magrib. Semayup. Ritmis. Sayup-sayup suara bariton laki-laki yang menyapu halaman rumah di sore itu menyenandungkan “Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya”.

Selasa, 01 April 2014

imajinasi

Imajinasi 

Suatu pagi di sebuah SD Negeri
Ibu guru menawari murid-muridnya untuk
memimpin teman-temannya
Karena tidak ada yang sukarela bersedia
Ibu guru pun serta merta menunjuk seorang bocah
JO ... KO-WE 

Suatu pagi di sebuah SMP suatu nagari
Bapak guru meminta salah seorang muridnya 
memimpin teman-temannya
Karena tidak seorang pun yang bersedia
Bapak guru pun menunjuk seorang anak lelaki
JO ... KO-WE

Suatu pagi di sebuah SMA Negeri di nagari
Seorang Ibu guru menawari siswanya 
jadi pemimpin di antara temannya
Karena tidak seorang pun yang sanggup
Ibu guru pun menyilakan satu siswa tampil
JO ... KO-WE

Suatu hari di Universitas ternama di Yogyakarta
Seorang dosen meminta satu mahasiswa 
untuk mewakili teman-temannya
Karena tak satu pun yang maju
Dosen itu pun mendaulat seorang mahasiswa
JO ... KO-WE

Suatu pagi di Ibu Kota negeri
Seorang ibu penentu pemimpin negeri 
pemegang mandat yang terus dinanti
Dengan rela dan berbesar hati memberi perintah
JO ... KO-WE

Dan setiap hari media cetak menulis JO ... KO-WE
Dan setiap hari media visual menggambar JO ... KO-WE
Radio pun tak henti meneriakkan JO ... KO-WE
Pun di media sosial berseliweran tulisan JO ... KO-WE

(Maaf, teman-teman di luar negeri membacanya jadi JO ... KO ... WI)



(29 Maret 2014)