Senin, 15 Oktober 2012

Lidah dan Telinga Seorang Murid



Lidah dan Telinga Seorang Murid
Yesaya 50: 4

            Ada hal yang menarik dari bacaan pagi hari ini. Kata murid dipakai untuk menggambarkan ketaatan hamba Tuhan. Ketaatan hamba Tuhan ditandai dengan memiliki lidah seorang murid dan mendengar seperti seorang murid. Itu artinya memiliki lidah dan telinga seorang murid.
Mengapa lidah dan telinga seorang murid dipakai sebagai ilustrasi ketaatan?
Mari kita sedikit bernostalgia dengan masa sekolah, ketika lagu siji loro telu akrab di bibir dan telinga kita.
siji loro telu astane sedheku
mirengake bu guru menawa didangu
papat nuli lima lenggahe sing tata
aja padha sembrono mundhak ora bisa

Bagi sebagian besar kita, lagu itu dulu sangat akrab di telinga. Isinya mengajarkan bahwa belajar itu perlu memusatkan perhatian, mendengarkan dengan cermat dan saksama. Belajar memerlukan sikap yang tertib dan serius. Murid yang perhatian, cermat, tertib, dan serius akan berhasil dalam belajarnya. Murid dalam konteks ini adalah pribadi yang siap menerima didikan dan ajaran guru. Murid dalam konteks ini adalah murid yang legawa menjalankan perintah dan melaksanakan tugas yang diberikan.
Karakteristik murid adalah karakteristik taat kepada hal-hal yang diajarkan dan dididikkan yang nantinya berguna bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Kita yang selama ini mengaku sebagai murid Tuhan dapat melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup kemuridan kita. Ketaatan kepada perintah-perintah yang harus dilaksanakan, tugas-tugas yang harus dikerjakan, tanggung jawab-tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bisa diteliti satu per satu. Berapa perintah dan didikan Tuhan yang belum bisa kita kerjakan dan selesaikan? Berapapun itu, sebanyak itulah beban yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai murid.
Murid yang baik, yang tahu tugas dan tanggung jawabnya, pada saatnya akan menikmati hasil perjuangan dan pergumulannya. Murid yang baik, tertib, dan taat, pada saatnya akan menuai kemuliaan sebagai buah dari ketekunannya.
Senada dengan hal tersebut, Nabi Yesaya mengajarkan bahwa hamba yang taat adalah seseorang dengan lidah dan telinga seorang murid. Hamba yang taat digambarkan sebagai murid yang harus bersedia dan rela hati mendengarkan. Bukan mendengarkan secara sepintas atau sambil lalu melainkan mendengarkan dengan cermat.
Mendengarkan dengan cermat dapat bermakna mendengarkan dengan sungguh-sungguh sehingga jelas: kata demi kata, kalimat demi kalimat, bagian demi bagian secara detil. Dengan begitu, kita dapat menerima informasi dengan baik, lengkap, dan menyeluruh. Kemampuan mendengarkan jenis inilah yang nantinya memampukan seseorang merespon dengan tepat, cermat, dan sesuai dengan kebutuhan mereka yang mengungkapkan.
Itulah pentingnya hamba Tuhan, para pelayan Tuhan memiliki telinga dan lidah seorang murid. Telinga dan lidah yang mau dan bersedia dengan sungguh-sungguh belajar mendengarkan dan memahami persoalan dan beban yang dihadapi umat. Dengan begitu, umat yang letih lesu mendapatkan semangat baru karena yang disampaikan para pelayan perkataan yang mengingatkan, menguatkan, menghibur, membangun, dan menenteramkan. 
Kita memohon dan berharap Roh Kudus mengaruniakan lidah dan telinga seorang murid sebagai bentuk ketaatan kita dan sebagai bekal kita mengerjakan tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan. Amin.

Cara Pandang Yesus



Cara Pandang Yesus
Matius 4: 18 – 22

            Saat kita belajar dulu, mungkin ada salah satu teman yang kita anggap bodohnya keterlaluan. Ibu Bapak yang berprofesi sebagai guru mungkin pernah menghadapi peserta didik dengan kemampuan akademis seperti itu. Meski seorang guru tidak boleh mengecap muridnya dengan cap bodoh, tetapi faktanya memang ada satu dua anak yang kemampuan akademisnya jauh dengan rata-rata anak kebanyakan. Ada guru yang kemudian memiliki istilah-istilah tertentu untuk menyebut anak-anak seperti ini.
Jika kita ke pasar, mungkin kita pernah menjumpai mbah-mbah menunggui tenggok berisi singkong di dalamnya. Kita tidak tertarik sama sekali terhadap jualan mbah-mbah itu. Bahkan melirik saja mungkin tidak. Dalam pikiran kita, “Ah... pohung!”. Tetapi ketika kita ke penjual makanan dan melihat kroket, bolu, cake, puding, dan lain-lain yang berasal dari pohung, kita harus antre untuk mendapatkannya. Kita rela berebut untuk memperolehnya.
Pernahkah kita melihat bebek mengerami telurnya? Sepanjang yang kita ketahui, secara alamiah telur itik dititipkan kepada induk ayam. Meri dan kuthuk tumbuh bersama dengan kebiasaan, perilaku, dan karakteristik berbeda. Yang satu kelompok suka tempat-tempat basah dan berair sedangkan kelompok yang lain suka tempat-tempat yang kering. Induk ayam tidak pernah menyesali perilaku dua kelompok anaknya itu. Dia dengan cinta yang sama memelihara dan melindungi anak-anaknya.
Apa yang kita dapatkan dari tiga ilustrasi di atas? Apakah ada relevansinya dengan bacaan kita pada palam hari ini?

Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya dari berbagai latar belakang kehidupan. Semua dipanggil dengan cara yang hampir sama dan dengan bahasa yang sama. Mereka diajar dengan cara yang sama, dengan kedisiplinan yang sama, dengan keteladanan yang sama, dengan hati yang sama, dan dengan cinta yang sama.
Tuhan Yesus tidak menyesal ketika masing-masing orang yang dipanggilnya sebagai murid itu tumbuh menjadi Matius, Markus, Lukas, Yohanes sang penulis Injil, Paulus penulis surat-surat, dan bahkan Yudas yang mengkhianati. Tuhan Yesus tidak menyesal murid-murid-Nya menjadi pribadi-pribadi berbeda dengan segala kekhususan dan keunikannya.
 Belajar dari Tuhan Yesus, mari kita layani jemaat Tuhan dengan hati yang sama, kasih yang sama, kedisiplinan yang sama, keteladanan yang sama, jiwa yang sama, dan cinta yang sama. Tuhan menghendaki agar kita tidak memandang latar belakang jemaat yang kita layani. Kita tidak boleh membeda-bedakan dalam pelayanan terhadap mereka. Kita tidak bisa meminta kepada Tuhan umat yang kondisinya semuanya sama. Kita tidak mungkin menuntut Tuhan memberikan orang yang setara semua untuk dilayani. Faktanya pasamuwan kita terdiri atas beragam latar belakang. Kalaupun mereka kemudian menjadi pribadi-pribadi yang unik, menjadi dirinya sendiri, kita tidak gagal melayani mereka. Dan kita tidak perlu menyesalinya.
Tuhan Yesus meneladani kita cara pandang yang seharusnya. Cara memandang umat kepunyaan-Nya dengan cinta Allah yang tidak membeda-bedakan. Semoga Tuhan memberikan kepada kita, para pelayan-Nya, cara pandang seperti cara pandang yang dimiliki Kristus. Amin.

Di Tangan Tukang Periuk



Di Tangan Tukang Periuk
Yeremia 18: 3 – 7

Seorang nenek yang usianya sekitar 65 tahun sedang mengerjakan pesanan sebuah genthong. Dengan sangat hati-hati, tangannya yang renta memijat-mijat bagian genthong yang menggembung. Dengan penuh konsentrasi nenek itu bekerja, bahkan dengan segenap perasaannya saat menyelesaikan bagian-bagian dengan tekstur artistik. Sementara satu tangannya memijat, tangan yang lain memutar pelarikan. Dua tangan bekerja dengan cermat untuk menghasilkan genthong tanah liat sesuai pesanan pelanggannya. Ia tidak mau hasil karyanya mengecewakan dan terlihat buruk di hadapan pemesan genthong. 
Aktivitas itu dapat kita lihat di daerah Masaran Sragen. Di sebuah kampung yang hampir sebagian besar warganya membuat gerabah. Para perajin gerabah dengan keahliannya mampu mengubah tanah lempung yang terkesan kotor dan buruk menjadi produk yang sangat berguna.
Ternyata, kepiawaian tukang periuk tidak hanya kita kenal di zaman kita hidup. Pada zaman Nabi Yeremia tukang periuk dan hasil karyanya sudah sangat dikenal. Tukang periuk dikenal bekerja dengan sangat serius, hati-hati, cermat, penuh perasaan, teliti, dan terutama bekerja dengan penuh cinta. Tanpa semua itu mustahil dia menghasilkan produk yang baik, bagus, dan indah. Rasanya kita belum pernah mendengar berita atau sekadar cerita: seorang tukang gerabah membuat genthong tetapi jadinya jambangan. Kita juga belum pernah mendengar seorang pembuat gerabah: tujuannya membuat celengan tetapi jadinya anglo.
Dalam batas-batas tertentu, seorang tukang periuk dapat kita katakan sebagai seorang jenius. Mengapa begitu? Lihatlah sebuah contoh. Tanah liat, tanah lempung, sekepalan tangan orang dewasa yang bagi kita tidak berarti apa-apa bisa berubah menjadi barang seni bernilai sangat tinggi. Tanah liat, tanah lempung, yang bagi sebagian orang merasa jijik dan kotor bisa diubah dan dipajang di pameran-pameran internasional. Adakah di antara kita yang tidak mau menghargai tukang periuk? 
Bacaan hari ini mengajarkan dua hal. Pertama, tanah liat, tanah lempung yang kelihatannya tidak berarti karena tidak berharga bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kepasrahan tanah liat untuk dipijat, dipenyet-penyet, dicuwil, ditekuk, dibengkokkan, dan diubah bentuk mempermudah tukang periuk menjadikannya lebih berharga. Kedua, tukang periuk memiliki kemampuan dan keterampilan yang memang dibutuhkan sebagai ahli periuk. Dia punya cinta yang besar untuk mengerjakan perubahan dari tanah lait menjadi barang berharga seperti kemauannya.     
Dua pengajaran itu sangat relevan dengan yang sedang kita kerjakan saat ini. Tanah liat, tanah lempung itu merupakan personifikasi masing-masing diri kita. Masing-masing diri kita memang memiliki kemampuan dan keterampilan. Tetapi di hadapan Tuhan, keterampilan dan kemampuan yang kita miliki itu tidak besar artinya, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada artinya.  Dengan pasrah sumarah di hadapan Tuhan, kita bisa ditekuk, dipenyet-penyet, dicuil, diluruskan, dan mungkin juga dipukul-pukul sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tuhan Sang Tukang Periuk sebenarnya adalah kreator ulung. Kita tidak perlu meragukan kemampuan-Nya, mempertanyakan keahlian-Nya, mengkhawatirkan kebesaran cinta-Nya. Sungguh seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku ....
Tuhan pasti punya rencana yang baik bagi pribadi kita masing-masing di tempat ini. Tuhan pasti sedang memperlengkapi kita dengan kemampuan-kemampuan yang kita butuhkan dalam berpelayanan. Setiap orang dengan keunikannnya masing-masing akan dibentuk dan dipakai dalam pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Pasrahkan diri kita dengan kerendahan hati agar Tuhan leluasa mengubah hal-hal buruk menjadi baik. Hal-hal  lemah menjadi kuat. Hal-hal kecil menjadi besar.   
Yakinlah! Ketika kita mengerjakan bagian kita, Tuhan sedang mengerjakan bagian-Nya. Amin 

Rabu, 25 Juli 2012

berbagiism

berbagiism

membagibagi sesuatu
tetapi malah terus bertambah
menerima berbagaibagai
tetapi tak pernah berubah

Minggu, 29 April 2012

Analisis Puisi


REFLEKSI KONTEMPLATIF CHAIRIL ANWAR DALAM PUISI ISA

Pengantar
Karya sastra merupakan objek pengetahuan yang bisa dipahami secara utuh dalam dirinya sendiri sekaligus karya sastra dianggap sebagai perwujudan sebuah struktur yang abstrak (Todorov, 1985: 1). Mengacu pemahaman tersebut, puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra dapat dianalisis secara otonom berdasarkan dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan pendekatan objektif yang disampaikan Abram (1979) baha karya sastra sebagai karya yang otonom maknanya berdiri sendiri, terlepas dari sejarah dan sosial budayanya.
Analisis puisi yang hanya terpaku pada unsur-unsurnya dianggap belum lengkap. Struktur yang abstrak perlu diungkapkan untuk mendapatkan makna yang lebih utuh. Makna menyeluruh sebuah puisi tidak cukup hanya digali melalui unsur-unsur puisi tersebut, tetapi perlu dideskripsikan sampai tataran makna yang lebih dalam.
Hal-hal di atas menjadi dasar analisis yang akan diuraikan dalam tulisan ringkas ini. puisi sebagai struktur yang kompleks perlu dianalisis berdasarkan unsur-unsur sebagai upaya untuk mengetahui keterkaitan bagian satu dengan bagian yang lainnya. Setelah kesatuan unsur-unsur tersebut diungkapkan, analisis dilanjutkan untukmenemukan makna yang terkandung di dalam jalinan unsur-unsur tersebut.
Langkah-langkah analisis mengacu tahapan-tahapan yang disampaikan oleh Pradopo (2007: 14-21), yaki analisis strata norma menurut Roman Ingarden. Analisis strata norma meliputi lapis suara (sound stratum),  lapis arti units of meaning), lapis ketiga, lapis keempat, dan lapis kelima. Analisi strata norma dianggap belum menyentuh hakikat puisi sehingga untuk menemukan maknanya dilakukan analisis semiotik. Analisis strata norma dan analisis semiotik diharapkan dapat mengungkapkan makna selengkapnya sehingga puisi sebagai karya seni dapat diketahui nilai estetiknya. Objek kajian dalam tulisan ini adalah puisi ISA karya Chairil Anwar.

Analisis Strata Norma Puisis ISA

ISA

Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

Kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka
aku bersuka

Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah

(Chairil Anwar dalam Pradopo, 2007: 34-35)

    a.    Lapis Suara (sound stratum)
Ketika seseorang membaca puisi, yang terdengar adalah rangkaian bunyi dengan jeda pendek, agak panjang, dan jeda panjang. Suara-suara yang terdengar bukan sekadar bunyi melainkan suara-suara yang mengikuti konvensi bahasa tertentu yang memiliki makna. Bunyi-bunyi yang dipergunakan penulis dalam puisi perlu ditelaah. Setiap bunyi kita yakini mengungkapkan makna tertentu. Paling tidak lewat buntiysng diperdengarkan dalam puisi, pembaca menjumpai suasana riang gembira, ringan ceria, pedih merintih, berat menekan, dan lain sebagainya.
Puisi ISA karya Chairil Anwar di atas juga mengandung satuan-satuan suara yang terdiri atas suara suku kata, kata, frase, dan kalimat. Lapis bunyi puisi tersebut mengikuti konvensi bunyi bahasa, dalam hal ini adalah konvensi bunyi bahasa Indonesia sebagai media ungkap puisi.
Efek puitis yang muncul pada puisi ini antara lain adanya asonansi bunyi a, mendampar tanya: aku salah; berkaca dalam darah; terbayang terang di mata masa; dan bertukar rupa ini segera. Asonansi bunyi u misalnya kita lihat pada: kulihat tubuh mengucur darah. Aliterasi t, d, dan m dapat kita lihat pada: terbayang terang; dalam darah; dan mata masa. Selain itu permainan bunyi r pada mengucur darah dan bertukar rupa ini segera menciptakan resonansi yang menggetarkan jika puisi dibacakan.
Bunyi dominan h yang dipakai mengakhiri hampir seluruh akhir baris memunculkan nuansa pedih yang mendalam. Bunyi ini melambangkan situasi yang demikian berat seberat penderitaan yang dialami Isa.

   b.    Lapis Arti (units of meaning)
Satuan arti puisi terbentuk dari kesatuan terkecil berupa fonem. Fonem terdiri atas suku kata dan kata yang kemudian tergabung menjadi frase, kalimat, alinea, bait, bab, dan kesatuan cerita. Bagian pertama puisi itu tubuh mengucur darah mengucur darah berarti tubuh itu sungguh-sungguh mengucurkan darah. Rubuh patah,  tubuh mengucur darah itu akhirnya rubuh mati dan untuk membuktikan benar-benar sudah mati, salah satu bagian perlu dipatahkan (menurut catatan Injil, tidak ada yang perlu dipatahkan karena sudah mati). Mendampar tanya: aku salah?, si aku dihinggapi pertanyaan reflektif karena ia membiarkan tragedi itu berlangsung dihadapannya.
Baris-baris selanjutnya, aku tetap memandang tubuh mengucur darah itu. Sebagai bagian refleksi kehidupannya, aku pun berkaca pada peristiwa tragis tersebut. Ternyata di balik curahan darah itu ada bayangan terang hidup yang akan segera menggantikan dan itu dapat dialami oleh setiap orang yang mau introspeksi diri. Si aku menutup kesedihan yang menguasai dirinya seperti luka menganga yang mengatup. Bahkan si aku mencoba mengganti kesedihan itu dengan rasa sukacita. Fakta tubuh mengucur darah tetap menjadi kenyataan yang tidak terhapus.

    c.    Lapis Ketiga
Lapis ketiga mengacu pada objek-objek yang dikemukakan: pelaku yang dapat ditemukan dalam puisi,  latar waktu, suasana, maupun tempat, dan dunia pengarang. Objek-objek yang dikemukakan meliputi tubuh, darah, terang, mata, rupa, dan luka. Latar yang ditampilkan bukan latar waktu dan latar tempat tetapi latar suasana, yang penuh dengan kepedihan yang mencekat mencengkam. Pelaku atau tokoh adalah si aku.
Dunia pengarang adalah dunia yang diciptakan pengarang. Pada bagian ini ada gabungan dan jalinan objek-objek yang dikemukakan, latar pelaku, dan struktur berupa alur cerita.
Pengarang mengisahkan ceritanya sebagai berikut. Tubuh itu mengucurkan darah. Darah terus mengucur dan tubuh itu akhirnya rubuh, mati. Untuk membuktikan bahwa tubuh itu sudah mati, ada bagian yang harus dipatahkan. Saat pengarang melihat kejadian itu (paling tidak dalam bayang imajinya), sebuah pertanyaan menyeruak di alam bawah sadarnya. Siapakah sebenarnya yang bersalah? Akukah yang bersalah?
Darah yang mengucur dipakai sebagai cermin untuk berkaca. Cermin darah itu memantulkan bayangan terang yang akan muncul pada waktu tertentu. Bayangan itu mampu mengubah dengan segera kesedihan menjadi harapan sukacita. Tetapi tubuh itu memang harus mengucurkan darah.        

   d.    Lapis Keempat
Lapis dunia yang implisit pada puisi ini adalah: tubuh yang mengucurkan darah itu menyebabkan kepedihan yang luar biasa. Bagian selanjutnya menyiratkan tragedi kemanusiaan yang mencekam (rubuh, patah) hingga hati tercekat. Situasi itu memunculkan pertanyaan kontemplatif ‘aku salah?’.
Pada bagian selanjutnya muncul keberanian si aku untuk mencoba memahami situasi dengan becermin pada kaca darah. Apa yang yang dilihat membawanya pada kesadaran makna di balik tragedi yang terjadi. Ada sukacita yang ditawarkan melalui peristiwa mencekam itu.
Bagian terakhir puisi menegaskan bahwa peristiwa itu memang harus terjadi. Tragedi kemanusiaan yang diyakini sebagai jalan menunju yang Illahi.

    e.    Lapis Kelima
Lapis metafisis pada puisi ini adalah di balik peristiwa tragis ada harapan yang terbentang berupa kehidupan terang benderang. Kehidupan terang itu menjanjikan suasana yang penuh kegembiraan. Suasana yang selalu diwarnai kesukacitaan.      

Analisis Makna Puisis ISA
Puisi ISA karya Chairil Anwar dapat dianalisis dari beberapa sudut pemahaman. Dari aspek bunyi yang dipergunakan, Chairil memberi gambaran suasana berat dan sedih. Bunyi a dan u yang dominan mampu memperdalam ucapan, sehingga timbul suasana khusus. Bunyi-bunyi itu terasa berat dan rendah yang menunjukkan perasaan sedih, gundah, muram, dan murung. Jika dibaca, puisi ini akan tepat diungkapkan dengan nada bas atau bariton serta vokal bertimbre berat sehingga suasana puisi muncul dalam getaran-getaran berat pembaca.
Pemilihan akhir baris dengan bunyi h memberi penegasan betapa dramatisnya peristiwa yang terungkap dalam puisi. Jika hal ini dapat dikatakan sebagai pola persajakan puisi maka Chairil berhasil dengan baik menciptakan daya evokasi dalam puisinya. Bunyi h yang dipergunakan memiliki daya yang sangat kuat dalam memunculkan pengertian yang disampaikan.
Subagyo Sastrowardoyo (1980: 51) memahami mengapa Chairil Anwar mampu mengekspresikan jelmaan angan-angannya sedemikian baik tetapi tragis. Gejala kejiwaan berupa dorongan kepada keganasan serta kecenderungan hendak menyaksikan kerusakan tubuh mendorong dia memilih kata darah, luka, rubuh, dan patah.  Situasi yang membingungkan serta jiwa yang tersiksa mendapatkan ruang ekspresi melalui luka parah dan kebinasaan tubuh itu.
Mengapa ISA? Kegelisahan dan penderitaan berupa pergulatan batin yang dilakukan dalam alam abstrak meninggalkan bekas pada wajah kejiwaannya. Ia mendapatkan kristalisasi dari semua itu dalam situasi nihilitis dan destruktif. Sementara itu,  ISA adalah abstraksi paling tepat sebagai simbol ketidakeksisan manusia dan kehancuran yang juga dialaminya. Chairil Anwar menemukan analog paling pas dengan sesuatu yang menghunjam pengalaman kejiwaannya pada ISA. ISA merupakan refleksi kontemplatif kehidupannya. Terlebih lagi, Chairil Anwar tidak mungkin memungkiri diri sebagai homo religious.
Sosok ISA  tidak semata-mata menjadi konkretisasi penderitaan mahadahsyat tetapi tidak lepas dari fakta lain yang dialami oleh Chairil. Chairil adalah penyair pro-Barat. Di tengah kesesakan himpitan politik Jepang, Chairil menggali kembali khasanah sastra Barat yang dibiarkannya memengaruhi dirinya dengan sikap dan pandangan ke-Eropa-annya. Hasilnya adalah Chairil yang memiliki jiwa khas Barat yang bersajak dalam bahasa Indonesia (Sastrowardoyo, 1980: 52).

Penutup
Mencoba memahami puisi ISA  karya Chairil Anwar, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, ISA merupakan simbol kekosongan eksistensi diri manusia. Ketika orang digerogoti oleh pertanyaan tentang jati diri, ISA adalah simbol paling tepat mengenai hal itu. Kedua, ISA (dalam istilah sekarang) merupakan ikon ketika manusia mencoba mencari referensi tentang kehancuran manusia dan kemanusiaan.


Daftar Pustaka

Abram, M.H. 1979. The Mirror and The Lamp: Romantic Theory and Critical Tradition. New York: Oxford University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007 (cetakan ke-7). Pengkajian Puisi Analisis Strata Norma & Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sastrowardoyo, Subagio. 1980. Sosok Pribadi dalam Sajak. Jakarta: Pustaka Jaya.

Todorov, Tzetan. 1985. Tata Sastra. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Senin, 05 Maret 2012

negeri ironi

negeri ironi

inilah negeri para ironi
tersebar kabar tentang menteri yang meminta fee dan
cerita bagibagi upeti pajak yang menyeruak
... kisah bankir bobol rekening yang bikin pening
tak seheboh banggar yang berevolusi jadi bandar
para penyelamat dana menjadi pengerat harta negara

inilah negeri para ironi
pemandangan tak elok saat hakim mengadili hakim
tak kalah seru jaksa yang menyeret kolega ke dalam penjara
seperti bukan pamali ketika polisi antri menghuni bui
para penegak hukum membengkokliukkan peraturan negeri

inilah negeri para ironi
hidup dari ironi untuk ironi dan kepada ironi