"Tulisan-tulisan saya mungkin tidak mengubah apapun, tetapi tulisan-tulisan itu telah mengubah pemikiran saya ke hal yang lebih baik"
(Kredo menulis Ely Prihmono S.P.)
Ada
hal yang menarik dari bacaan pagi hari ini. Kata murid dipakai untuk
menggambarkan ketaatan hamba Tuhan. Ketaatan hamba Tuhan ditandai dengan
memiliki lidah seorang murid dan mendengar seperti seorang murid. Itu artinya
memiliki lidah dan telinga seorang murid.
Mengapa lidah
dan telinga seorang murid dipakai sebagai ilustrasi ketaatan?
Mari kita sedikit bernostalgia dengan masa
sekolah, ketika lagu siji loro telu
akrab di bibir dan telinga kita.
siji loro telu astane sedheku
mirengake bu guru menawa didangu
papat nuli lima lenggahe sing tata
aja padha sembrono mundhak ora bisa
Bagi sebagian
besar kita, lagu itu dulu sangat akrab di telinga. Isinya mengajarkan bahwa
belajar itu perlu memusatkan perhatian, mendengarkan dengan cermat dan saksama.
Belajar memerlukan sikap yang tertib dan serius. Murid yang perhatian, cermat,
tertib, dan serius akan berhasil dalam belajarnya. Murid dalam konteks ini
adalah pribadi yang siap menerima didikan dan ajaran guru. Murid dalam konteks
ini adalah murid yang legawa menjalankan
perintah dan melaksanakan tugas yang diberikan.
Karakteristik
murid adalah karakteristik taat kepada hal-hal yang diajarkan dan dididikkan
yang nantinya berguna bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Kita yang selama
ini mengaku sebagai murid Tuhan dapat melakukan refleksi terhadap perjalanan
hidup kemuridan kita. Ketaatan kepada
perintah-perintah yang harus dilaksanakan, tugas-tugas yang harus dikerjakan, tanggung
jawab-tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bisa diteliti satu per satu.
Berapa perintah dan didikan Tuhan yang belum bisa kita kerjakan dan selesaikan?
Berapapun itu, sebanyak itulah beban yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita
sebagai murid.
Murid yang
baik, yang tahu tugas dan tanggung jawabnya, pada saatnya akan menikmati hasil
perjuangan dan pergumulannya. Murid yang baik, tertib, dan taat, pada saatnya
akan menuai kemuliaan sebagai buah dari ketekunannya.
Senada dengan
hal tersebut, Nabi Yesaya mengajarkan bahwa hamba yang taat adalah seseorang
dengan lidah dan telinga seorang murid. Hamba yang taat digambarkan sebagai
murid yang harus bersedia dan rela hati mendengarkan. Bukan mendengarkan secara
sepintas atau sambil lalu melainkan mendengarkan dengan cermat.
Mendengarkan
dengan cermat dapat bermakna mendengarkan dengan sungguh-sungguh sehingga
jelas: kata demi kata, kalimat demi kalimat, bagian demi bagian secara detil.
Dengan begitu, kita dapat menerima informasi dengan baik, lengkap, dan
menyeluruh. Kemampuan mendengarkan jenis inilah yang nantinya memampukan
seseorang merespon dengan tepat, cermat, dan sesuai dengan kebutuhan mereka
yang mengungkapkan.
Itulah
pentingnya hamba Tuhan, para pelayan Tuhan memiliki telinga dan lidah seorang
murid. Telinga dan lidah yang mau dan bersedia dengan sungguh-sungguh belajar
mendengarkan dan memahami persoalan dan beban yang dihadapi umat. Dengan
begitu, umat yang letih lesu mendapatkan semangat baru karena yang disampaikan
para pelayan perkataan yang mengingatkan, menguatkan, menghibur, membangun, dan
menenteramkan.
Kita memohon
dan berharap Roh Kudus mengaruniakan lidah dan telinga seorang murid sebagai
bentuk ketaatan kita dan sebagai bekal kita mengerjakan tugas pelayanan yang
dipercayakan Tuhan. Amin.
Saat
kita belajar dulu, mungkin ada salah satu teman yang kita anggap bodohnya keterlaluan. Ibu Bapak yang
berprofesi sebagai guru mungkin pernah menghadapi peserta didik dengan
kemampuan akademis seperti itu. Meski seorang guru tidak boleh mengecap muridnya
dengan cap bodoh, tetapi faktanya memang ada satu dua anak yang kemampuan
akademisnya jauh dengan rata-rata anak kebanyakan. Ada guru yang kemudian
memiliki istilah-istilah tertentu untuk menyebut anak-anak seperti ini.
Jika kita ke
pasar, mungkin kita pernah menjumpai mbah-mbah
menunggui tenggok berisi singkong di
dalamnya. Kita tidak tertarik sama sekali terhadap jualan mbah-mbah itu. Bahkan melirik saja mungkin tidak. Dalam pikiran
kita, “Ah... pohung!”. Tetapi ketika
kita ke penjual makanan dan melihat kroket, bolu, cake, puding, dan lain-lain yang berasal dari pohung, kita harus antre untuk mendapatkannya. Kita rela berebut
untuk memperolehnya.
Pernahkah kita
melihat bebek mengerami telurnya? Sepanjang yang kita ketahui, secara alamiah
telur itik dititipkan kepada induk ayam. Meri
dan kuthuk tumbuh bersama dengan
kebiasaan, perilaku, dan karakteristik berbeda. Yang satu kelompok suka
tempat-tempat basah dan berair sedangkan kelompok yang lain suka tempat-tempat
yang kering. Induk ayam tidak pernah menyesali perilaku dua kelompok anaknya
itu. Dia dengan cinta yang sama memelihara dan melindungi anak-anaknya.
Apa yang kita
dapatkan dari tiga ilustrasi di atas? Apakah ada relevansinya dengan bacaan
kita pada palam hari ini?
Tuhan Yesus
memanggil murid-murid-Nya dari berbagai latar belakang kehidupan. Semua
dipanggil dengan cara yang hampir sama dan dengan bahasa yang sama. Mereka
diajar dengan cara yang sama, dengan kedisiplinan yang sama, dengan keteladanan
yang sama, dengan hati yang sama, dan dengan cinta yang sama.
Tuhan Yesus
tidak menyesal ketika masing-masing orang yang dipanggilnya sebagai murid itu
tumbuh menjadi Matius, Markus, Lukas, Yohanes sang penulis Injil, Paulus
penulis surat-surat, dan bahkan Yudas yang mengkhianati. Tuhan Yesus tidak
menyesal murid-murid-Nya menjadi pribadi-pribadi berbeda dengan segala
kekhususan dan keunikannya.
Belajar dari Tuhan Yesus, mari kita layani
jemaat Tuhan dengan hati yang sama, kasih yang sama, kedisiplinan yang sama,
keteladanan yang sama, jiwa yang sama, dan cinta yang sama. Tuhan menghendaki
agar kita tidak memandang latar belakang jemaat yang kita layani. Kita tidak
boleh membeda-bedakan dalam pelayanan terhadap mereka. Kita tidak bisa meminta
kepada Tuhan umat yang kondisinya semuanya sama. Kita tidak mungkin menuntut
Tuhan memberikan orang yang setara semua untuk dilayani. Faktanya pasamuwan kita terdiri atas beragam
latar belakang. Kalaupun mereka kemudian menjadi pribadi-pribadi yang unik, menjadi
dirinya sendiri, kita tidak gagal melayani mereka. Dan kita tidak perlu
menyesalinya.
Tuhan Yesus
meneladani kita cara pandang yang seharusnya. Cara memandang umat kepunyaan-Nya
dengan cinta Allah yang tidak membeda-bedakan. Semoga Tuhan memberikan kepada
kita, para pelayan-Nya, cara pandang seperti cara pandang yang dimiliki
Kristus. Amin.
Seorang
nenek yang usianya sekitar 65 tahun sedang mengerjakan pesanan sebuah genthong. Dengan sangat hati-hati,
tangannya yang renta memijat-mijat bagian genthong
yang menggembung. Dengan penuh konsentrasi nenek itu bekerja, bahkan dengan
segenap perasaannya saat menyelesaikan bagian-bagian dengan tekstur artistik. Sementara
satu tangannya memijat, tangan yang lain memutar pelarikan. Dua tangan bekerja
dengan cermat untuk menghasilkan genthong
tanah liat sesuai pesanan pelanggannya. Ia tidak mau hasil karyanya
mengecewakan dan terlihat buruk di hadapan pemesan genthong.
Aktivitas
itu dapat kita lihat di daerah Masaran Sragen. Di sebuah kampung yang hampir
sebagian besar warganya membuat gerabah. Para perajin gerabah dengan
keahliannya mampu mengubah tanah lempung
yang terkesan kotor dan buruk menjadi produk yang sangat berguna.
Ternyata, kepiawaian tukang periuk tidak hanya
kita kenal di zaman kita hidup. Pada zaman Nabi Yeremia tukang periuk dan hasil
karyanya sudah sangat dikenal. Tukang periuk dikenal bekerja dengan sangat
serius, hati-hati, cermat, penuh perasaan, teliti, dan terutama bekerja dengan
penuh cinta. Tanpa semua itu mustahil dia menghasilkan produk yang baik, bagus,
dan indah. Rasanya kita belum pernah mendengar berita atau sekadar cerita:
seorang tukang gerabah membuat genthong tetapi
jadinya jambangan. Kita juga belum
pernah mendengar seorang pembuat gerabah: tujuannya membuat celengan tetapi
jadinya anglo.
Dalam batas-batas tertentu, seorang tukang
periuk dapat kita katakan sebagai seorang jenius. Mengapa begitu? Lihatlah
sebuah contoh. Tanah liat, tanah lempung, sekepalan tangan orang dewasa yang
bagi kita tidak berarti apa-apa bisa berubah menjadi barang seni bernilai
sangat tinggi. Tanah liat, tanah lempung, yang bagi sebagian orang merasa jijik
dan kotor bisa diubah dan dipajang di pameran-pameran internasional. Adakah di
antara kita yang tidak mau menghargai tukang periuk?
Bacaan hari ini mengajarkan dua hal. Pertama, tanah liat, tanah lempung yang
kelihatannya tidak berarti karena tidak berharga bisa menjadi sesuatu yang
sangat berharga. Kepasrahan tanah liat untuk dipijat, dipenyet-penyet, dicuwil,
ditekuk, dibengkokkan, dan diubah bentuk mempermudah tukang periuk
menjadikannya lebih berharga. Kedua, tukang
periuk memiliki kemampuan dan keterampilan yang memang dibutuhkan sebagai ahli
periuk. Dia punya cinta yang besar untuk mengerjakan perubahan dari tanah lait
menjadi barang berharga seperti kemauannya.
Dua pengajaran itu sangat relevan dengan yang
sedang kita kerjakan saat ini. Tanah liat, tanah lempung itu merupakan
personifikasi masing-masing diri kita. Masing-masing diri kita memang memiliki
kemampuan dan keterampilan. Tetapi di hadapan Tuhan, keterampilan dan kemampuan
yang kita miliki itu tidak besar artinya, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada
artinya.Dengan pasrah sumarah di hadapan
Tuhan, kita bisa ditekuk, dipenyet-penyet, dicuil, diluruskan, dan mungkin juga
dipukul-pukul sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tuhan Sang Tukang Periuk sebenarnya adalah
kreator ulung. Kita tidak perlu meragukan kemampuan-Nya, mempertanyakan
keahlian-Nya, mengkhawatirkan kebesaran cinta-Nya. Sungguh seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di
tangan-Ku ....
Tuhan pasti punya rencana yang baik bagi
pribadi kita masing-masing di tempat ini. Tuhan pasti sedang memperlengkapi
kita dengan kemampuan-kemampuan yang kita butuhkan dalam berpelayanan. Setiap
orang dengan keunikannnya masing-masing akan dibentuk dan dipakai dalam
pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Pasrahkan diri kita dengan kerendahan hati agar
Tuhan leluasa mengubah hal-hal buruk menjadi baik. Hal-hal lemah menjadi kuat. Hal-hal kecil menjadi
besar.
Yakinlah! Ketika kita mengerjakan bagian kita,
Tuhan sedang mengerjakan bagian-Nya. Amin
REFLEKSI
KONTEMPLATIF CHAIRIL ANWAR DALAM PUISI ISA
Pengantar
Karya sastra merupakan objek pengetahuan yang bisa
dipahami secara utuh dalam dirinya sendiri sekaligus karya sastra dianggap
sebagai perwujudan sebuah struktur yang abstrak (Todorov, 1985: 1). Mengacu pemahaman
tersebut, puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra dapat dianalisis secara
otonom berdasarkan dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan pendekatan objektif
yang disampaikan Abram (1979) baha karya sastra sebagai karya yang otonom
maknanya berdiri sendiri, terlepas dari sejarah dan sosial budayanya.
Analisis puisi yang hanya terpaku pada unsur-unsurnya
dianggap belum lengkap. Struktur yang abstrak perlu diungkapkan untuk
mendapatkan makna yang lebih utuh. Makna menyeluruh sebuah puisi tidak cukup
hanya digali melalui unsur-unsur puisi tersebut, tetapi perlu dideskripsikan
sampai tataran makna yang lebih dalam.
Hal-hal di atas menjadi dasar analisis yang akan
diuraikan dalam tulisan ringkas ini. puisi sebagai struktur yang kompleks perlu
dianalisis berdasarkan unsur-unsur sebagai upaya untuk mengetahui keterkaitan
bagian satu dengan bagian yang lainnya. Setelah kesatuan unsur-unsur tersebut
diungkapkan, analisis dilanjutkan untukmenemukan makna yang terkandung di dalam
jalinan unsur-unsur tersebut.
Langkah-langkah analisis mengacu tahapan-tahapan yang
disampaikan oleh Pradopo (2007: 14-21), yaki analisis strata norma menurut
Roman Ingarden. Analisis strata norma meliputi lapis suara (sound stratum), lapis arti units
of meaning), lapis ketiga, lapis keempat, dan lapis kelima. Analisi strata
norma dianggap belum menyentuh hakikat puisi sehingga untuk menemukan maknanya
dilakukan analisis semiotik. Analisis strata norma dan analisis semiotik
diharapkan dapat mengungkapkan makna selengkapnya sehingga puisi sebagai karya
seni dapat diketahui nilai estetiknya. Objek kajian dalam tulisan ini adalah
puisi ISA karya Chairil Anwar.
Analisis Strata Norma Puisis ISA
ISA
Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?
Kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka
aku bersuka
Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
(Chairil Anwar
dalam Pradopo, 2007: 34-35)
a.Lapis Suara (sound stratum)
Ketika seseorang membaca puisi, yang terdengar adalah
rangkaian bunyi dengan jeda pendek, agak panjang, dan jeda panjang. Suara-suara
yang terdengar bukan sekadar bunyi melainkan suara-suara yang mengikuti
konvensi bahasa tertentu yang memiliki makna. Bunyi-bunyi yang dipergunakan
penulis dalam puisi perlu ditelaah. Setiap bunyi kita yakini mengungkapkan
makna tertentu. Paling tidak lewat buntiysng diperdengarkan dalam puisi,
pembaca menjumpai suasana riang gembira, ringan ceria, pedih merintih, berat
menekan, dan lain sebagainya.
Puisi ISA karya
Chairil Anwar di atas juga mengandung satuan-satuan suara yang terdiri atas
suara suku kata, kata, frase, dan kalimat. Lapis bunyi puisi tersebut mengikuti
konvensi bunyi bahasa, dalam hal ini adalah konvensi bunyi bahasa Indonesia
sebagai media ungkap puisi.
Efek puitis yang muncul pada puisi ini antara lain adanya
asonansi bunyi a, mendampar tanya: aku
salah; berkaca dalam darah; terbayang terang di mata masa; dan bertukar rupa ini segera. Asonansi bunyi
u misalnya kita lihat pada: kulihat tubuh mengucur darah. Aliterasi t, d, dan m dapat kita lihat pada: terbayang
terang; dalam darah; dan mata masa.
Selain itu permainan bunyi r pada mengucur darah dan bertukar rupa ini segera menciptakan resonansi yang menggetarkan
jika puisi dibacakan.
Bunyi dominan h yang
dipakai mengakhiri hampir seluruh akhir baris memunculkan nuansa pedih yang
mendalam. Bunyi ini melambangkan situasi yang demikian berat seberat
penderitaan yang dialami Isa.
b.Lapis Arti (units of meaning)
Satuan arti puisi terbentuk dari kesatuan terkecil berupa
fonem. Fonem terdiri atas suku kata dan kata yang kemudian tergabung menjadi
frase, kalimat, alinea, bait, bab, dan kesatuan cerita. Bagian pertama puisi itu tubuh mengucur darah mengucur darah berarti
tubuh itu sungguh-sungguh mengucurkan darah. Rubuh patah, tubuh mengucur
darah itu akhirnya rubuh mati dan untuk membuktikan benar-benar sudah mati,
salah satu bagian perlu dipatahkan (menurut catatan Injil, tidak ada yang perlu
dipatahkan karena sudah mati). Mendampar tanya:
aku salah?, si aku dihinggapi pertanyaan reflektif karena ia membiarkan tragedi
itu berlangsung dihadapannya.
Baris-baris selanjutnya, aku tetap memandang tubuh mengucur darah itu. Sebagai bagian
refleksi kehidupannya, aku pun
berkaca pada peristiwa tragis tersebut. Ternyata di balik curahan darah itu ada
bayangan terang hidup yang akan segera menggantikan dan itu dapat dialami oleh
setiap orang yang mau introspeksi diri. Siaku menutup kesedihan yang menguasai dirinya
seperti luka menganga yang mengatup. Bahkan siaku mencoba mengganti kesedihan itu
dengan rasa sukacita. Fakta tubuh mengucur darah tetap menjadi kenyataan yang
tidak terhapus.
c.Lapis Ketiga
Lapis ketiga mengacu
pada objek-objek yang dikemukakan: pelaku yang dapat ditemukan dalam puisi, latar waktu, suasana, maupun tempat, dan dunia
pengarang. Objek-objek yang dikemukakan meliputi tubuh, darah, terang, mata,
rupa, dan luka. Latar yang ditampilkan bukan latar waktu dan latar tempat
tetapi latar suasana, yang penuh dengan kepedihan yang mencekat mencengkam. Pelaku
atau tokoh adalah si aku.
Dunia pengarang
adalah dunia yang diciptakan pengarang. Pada bagian ini ada gabungan dan
jalinan objek-objek yang dikemukakan, latar pelaku, dan struktur berupa alur
cerita.
Pengarang mengisahkan
ceritanya sebagai berikut. Tubuh itu mengucurkan darah. Darah terus mengucur
dan tubuh itu akhirnya rubuh, mati. Untuk membuktikan bahwa tubuh itu sudah
mati, ada bagian yang harus dipatahkan. Saat pengarang melihat kejadian itu (paling
tidak dalam bayang imajinya), sebuah pertanyaan menyeruak di alam bawah
sadarnya. Siapakah sebenarnya yang bersalah? Akukah yang bersalah?
Darah yang mengucur
dipakai sebagai cermin untuk berkaca. Cermin darah itu memantulkan bayangan
terang yang akan muncul pada waktu tertentu. Bayangan itu mampu mengubah dengan
segera kesedihan menjadi harapan sukacita. Tetapi tubuh itu memang harus
mengucurkan darah.
d.Lapis Keempat
Lapis dunia yang
implisit pada puisi ini adalah: tubuh yang mengucurkan darah itu menyebabkan
kepedihan yang luar biasa. Bagian selanjutnya menyiratkan tragedi kemanusiaan
yang mencekam (rubuh, patah) hingga hati tercekat. Situasi itu memunculkan
pertanyaan kontemplatif ‘aku salah?’.
Pada bagian
selanjutnya muncul keberanian si aku untuk
mencoba memahami situasi dengan becermin pada kaca darah. Apa yang yang dilihat
membawanya pada kesadaran makna di balik tragedi yang terjadi. Ada sukacita
yang ditawarkan melalui peristiwa mencekam itu.
Bagian terakhir
puisi menegaskan bahwa peristiwa itu memang harus terjadi. Tragedi kemanusiaan
yang diyakini sebagai jalan menunju yang Illahi.
e.Lapis Kelima
Lapis metafisis pada puisi ini adalah di balik peristiwa
tragis ada harapan yang terbentang berupa kehidupan terang benderang. Kehidupan
terang itu menjanjikan suasana yang penuh kegembiraan. Suasana yang selalu
diwarnai kesukacitaan.
Analisis Makna Puisis ISA
Puisi ISA karya Chairil Anwar dapat dianalisis dari beberapa sudut
pemahaman. Dari aspek bunyi yang dipergunakan, Chairil memberi gambaran suasana
berat dan sedih. Bunyi a dan u yang dominan mampu memperdalam ucapan,
sehingga timbul suasana khusus. Bunyi-bunyi itu terasa berat dan rendah yang
menunjukkan perasaan sedih, gundah, muram, dan murung. Jika dibaca, puisi ini
akan tepat diungkapkan dengan nada bas
atau bariton serta vokal bertimbre berat sehingga suasana puisi
muncul dalam getaran-getaran berat pembaca.
Pemilihan akhir baris dengan
bunyi h memberi penegasan betapa
dramatisnya peristiwa yang terungkap dalam puisi. Jika hal ini dapat dikatakan
sebagai pola persajakan puisi maka Chairil berhasil dengan baik menciptakan
daya evokasi dalam puisinya. Bunyi h yang dipergunakan memiliki daya yang sangat kuat dalam
memunculkan pengertian yang disampaikan.
Subagyo Sastrowardoyo (1980: 51)
memahami mengapa Chairil Anwar mampu mengekspresikan jelmaan angan-angannya
sedemikian baik tetapi tragis. Gejala kejiwaan berupa dorongan kepada keganasan
serta kecenderungan hendak menyaksikan kerusakan tubuh mendorong dia memilih
kata darah, luka, rubuh, dan patah.Situasi yang membingungkan serta jiwa yang
tersiksa mendapatkan ruang ekspresi melalui luka
parah dan kebinasaan tubuh itu.
Mengapa ISA? Kegelisahan dan penderitaan berupa pergulatan batin yang
dilakukan dalam alam abstrak meninggalkan bekas pada wajah kejiwaannya. Ia mendapatkan
kristalisasi dari semua itu dalam situasi nihilitis dan destruktif. Sementara itu,
ISA
adalah abstraksi paling tepat sebagai simbol ketidakeksisan manusia dan
kehancuran yang juga dialaminya. Chairil Anwar menemukan analog paling pas
dengan sesuatu yang menghunjam pengalaman kejiwaannya pada ISA. ISA merupakan refleksi kontemplatif kehidupannya. Terlebih lagi,
Chairil Anwar tidak mungkin memungkiri diri sebagai homo religious.
Sosok ISA tidak semata-mata
menjadi konkretisasi penderitaan mahadahsyat tetapi tidak lepas dari fakta lain
yang dialami oleh Chairil. Chairil adalah penyair pro-Barat. Di tengah kesesakan himpitan politik Jepang, Chairil
menggali kembali khasanah sastra Barat yang dibiarkannya memengaruhi dirinya dengan
sikap dan pandangan ke-Eropa-annya. Hasilnya adalah Chairil yang memiliki jiwa
khas Barat yang bersajak dalam bahasa Indonesia (Sastrowardoyo, 1980: 52).
Penutup
Mencoba memahami puisi ISA karya Chairil Anwar, ada dua hal penting yang
perlu diperhatikan. Pertama, ISA merupakan
simbol kekosongan eksistensi diri manusia. Ketika orang digerogoti oleh
pertanyaan tentang jati diri, ISA
adalah simbol paling tepat mengenai hal itu. Kedua, ISA (dalam istilah sekarang) merupakan ikon ketika manusia mencoba
mencari referensi tentang kehancuran manusia dan kemanusiaan.
Daftar Pustaka
Abram, M.H. 1979. The
Mirror and The Lamp: Romantic Theory and Critical Tradition. New York:
Oxford University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007 (cetakan ke-7). Pengkajian Puisi Analisis Strata Norma &
Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sastrowardoyo, Subagio. 1980. Sosok Pribadi dalam Sajak. Jakarta: Pustaka Jaya.
inilah negeri para ironi tersebar kabar tentang menteri yang meminta fee dan cerita bagibagi upeti pajak yang menyeruak ... kisah bankir bobol rekening yang bikin pening tak seheboh banggar yang berevolusi jadi bandar para penyelamat dana menjadi pengerat harta negara
inilah negeri para ironi pemandangan tak elok saat hakim mengadili hakim tak kalah seru jaksa yang menyeret kolega ke dalam penjara seperti bukan pamali ketika polisi antri menghuni bui para penegak hukum membengkokliukkan peraturan negeri
inilah negeri para ironi hidup dari ironi untuk ironi dan kepada ironi